rss
twitter
  •  

Mengalah Secara Bijak……

| Posted in Catatan Harian |

33

Dear All,

Hai…. met jumpa lagi di blog aku yang gak pernah update lagi….. hahahaha….

Iya nehh…. dah hampir satu bulan aku ga update artikel lagi… maklum, otak lagi keriting… kejaan numpuk ga kelar-2 ditambah dengan penyakit males yang ga mau ilang…. hehehe….

Oke deh… ni aku mo nyoba mulai nulis lagi, semoga masih ada yang mau membaca dan mengambil makna dari tulisan aku ini.

Seperti biasa, aku akan mulai dengan cerita yang mungkin saja teman-2 sudah sering mendengarnya…. cekidot…..

Pernah dengar tentang Confusius kan…. Nah… yang ini murid dari guru cofusius yang terkenal, namanya Yan Hui. Dia ini murid kesayangan Confusius karena sifatnya yang teramat baek dan  suka sekali belajar.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.  Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?
“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sahabat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.
Pembeli kain yang masih ngotot dia yang benar tidak senang, lalu dia menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.
Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius  berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23.  Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, dengan agak terpaksa, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia berpikir tidak mau lagi belajar darinya.
Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”
Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”  Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.

Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.” Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.

Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.

Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”  Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.

Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutiny.

Sahabat,
Jikalau anda bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting (sahabat, keluarga, pekerjaan dll.  apa gunanya?!  Justru anda akan menderita kerugian besar.
Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal hanya menuruti kepuasan hati tapi kejadian selanjutnya justru lebih fatal, ketika kita mengetahuinya sudahlah terlambat dan tidak bisa mengembalikan lagi dan akhirnya jadi penyesalan.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan.
Mengalah untuk menang akan membuat kita mengambil keputusan secara bijak, kalau kita Mundur selangkah untuk kebaikan semua orang akan lebih bermakna dari pada kita ngotot dengan kemenangan kita.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Kalau pelanggan kabur baru tahu rasa)
Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (alamat ndak dapat bonus,premi ndak naik-naik,dipindah tugas, dipecat.. berani ?!)
Bersikeras melawan keluarga. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bahaya, bisa-bisa keluarga marah, nggak mau menerima kita, kalo kita sedang kena masalah nggak bisa ngadu ke mereka kan..)
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).
Sebenarnya kalah dan menang tergantung penilaian kita, bila kita bisa mengambil keputusan yang tepat, maka kita sebenarnya sudah menang. Mengalahpun tak ada salahnya, kalo memang itu diperlukan demi hal yang lebih baik dan bermanfaat. Mengalah secara bijak merupakan kemenangan yang luar biasa.
Selamat mengalah secara bijak…
Best Regards,
trieand

Comments (33)

makasih..bisa diterapkan nih…:hore:

Salam super,,
Salam kenal untuk semua,semoga sukses selalu…
:sip::sip::sip:

@Andry sianipar, salam kenal balik… sukses jg buat mas andry…

@atha, makasih… semoga berguna…

:sip:mengalah untuk menang, bkn ikut napsyuu,sing waras ngalah

@Bundapreneur, buenuuuull bundaaa…. :sip:

dahsyat… merinding saya baca tentang confusius… :sip:

Kadang memang kita perlu mengalah dengan bijak, tapi ada kalanya kita juga harus menang dengan bijak…

Salam Kreatif,
Octa Dwinanda

@online-business-story.com, :ngakak: bener banget… Makasih kunjungannya…. :sip:

Wah, artikelnya sangat filosofis dan bijak mbak trie. Emang yg benar (8×3=24) itu tidak hrs slalu dikatakan selama mendatangkan bencana yang lebih besar. Dan menutupi kebenaran demi kemaslahatan sosial itu juga akan benar.Sy benar2 bs dpt hikmah besar dr artikel mbak trie.Trima ksh.Salam kenal dari saya.

@arkum, :sip: iya… Intinya harus pandai memilih mana yang lebih banyak mendatangkan manfaat… Makasih yak… dah mampir :ngakak:

membungkus pesan mulia lewat sebuah kisah, mengasyikkan dan menggugah.
apa yang terjadi di atas, sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, walau kita tidak menyadarinya.

@fadly muin, :sip: hehehe… makasih mas kunjungannya dan komennya… :hihi:

kalau manusia tidak ada yg mau mengalah secara bijak dunia pasti akan banyak terjadi peprangan. Salam kenal. :hihi:

@Ardiawan, iya mas… Pasti dunia ini akan indah… salam kenal juga dr aku yak… :sip:

Sangat memotivasi mas.. :sip:

@A9YnD1LV3R, :sip::sip: makaseeehhhh…. tp aku gak mas lohh….:melet::melet:

:sip::sip:wah lama ga update mbak hehehe???
hem sharenya bagus..makasi mbak…memang terkadang manusia cenderung dikuasai ego dan mengedepamkan egonya, sehingga ga mau ngalah…dan akhirnya terjadi pertengkaran deh..yang nantinya malah berakibat lebih buruk…

@Alfred, wadoohhh…. maaaaffff…. jawab komennya juga telaaattt… hehehe…:puyeng::puyeng:

lama saya gak mampir ke sini .. artikel ini pun mengingatkan saya pada nasehat guru ngaji saya “jangan melawan arus deras pasti akan terlindas”:sip:

@alfon, :hihi::hihi: iya neh mas… aku juga lama gak sempet update n blogwalking kok… makasih dah mo mampir lagi yaakkk… :sip::sip:

Inspirasi baru nih…..salam super mas

@idi suwardi, :hihi::hihi: makasiiihhhh…. semoga bermanfaat… :sip::sip:

wahhh dah lama ga maen kesini
kangen kangen
:)

nice post spti biasa

@depz, :hiks::hiks: hooh…. aku juga kangen dah lama ga maen ke blog mas depz…. makasih yaakkk…. :sip::sip:

oooo jadi ceritanya sekarang pake thesis….
pake thesis di apdet donk hehehhe

@candradot.com, hehe… maaff… telaaatttt….:melet::melet:

ceritanya bagus neh…..cocok buat gue yg cepat panas:hore:

@idi, :puyeng::puyeng: wadoohhh…. gak salah nehhh…. musin hujan kok panas-2 sehhh…. jangan doonggg…:clinguk2::clinguk2:

@idi, :plis::plis: brebtiiiii…… ntar…:puyeng::puyeng:

WAH BENAR2 SERU KADANG tak masuk akal tapi itu kenyataan yang harus diterima ya mbak trieand he he he

@betsy, :hiks::hiks: iya mbak… kadanh emang kita harus mengalah demi kepentingan yang lebih besar kok… makasih yakkk…:puyeng::puyeng:

:baca: nice posting.

Post a comment

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: :sliweran: more »