rss
twitter
  •  

Belum ada judul….

| Posted in Catatan Harian, Motivation |

20

Dear All,

Alhamdulillah… walaupun di hari ke 10 bulan puasa ini kesehatanku agak terganggu, tapi aku tetap bersemangat buat posting artikel. Lalu… kenapa diatas aku tulis belum ada judul?…  Karena emang aku bingung mo ngasih judul apa pada artikel yang kali ini. apalah arti judul…toh yang penting isi dan maksud yang terkandung didalamnya kan….Ceritanya begini,

Adalah seorang pejabat yang sedang mewawancarai tiga calon karyawan yang dipertimbangkan untuk menduduki sebuah fungsi penting dalam perusahaannya.

Maka, masuklah calon yang pertama. Mulailah si pejabat mewawancainya, “Saudara A, 2 tambah 2 sama dengan berapa?’.  Si calon karyawan dengan sigap menjawab, “Siap pak, 2 tambah 2 sama dengan 4″.  Pejabatpun mengernyitkan dahi…. orang ini punya pendirian kuat neh… kelak pasti akan menyulitkan aku, batin sang pejabat. Maka…tanpa banyak pikir si calon pertamapun ditolak.

Lalu masuklah calon yang kedua, dan ditanya dengan pertanyaan yang sama pula. Karena si calon kedua sudah tahu calon pertama ditolak karena kejujurannya, maka iapun menjawab, “Siap pak, 2 tambah 2 sama dengan sepuluh”. jawabnya. Pejabatpun menggaruk-garuk kepalanya sambil merenung, “Orang ini terlampau licik dan cerdik, kalau aku terima….wahhh…saya bisa dimakan nanti”. Maka…ditolaklah calon yang kedua tadi.

Dan akhirnya, masuklah calon yang ketiga atau yang terakhir, dan langsung diberi pertanyaan yang sama dengan calon sebelumnya, “Saudara C, 2 tambah 2 sama dengan berapa?”  Sang calon terhenyak dan segera menunduk. Dengan takzim dia menjawab, “Siap pak, 2 tambah 2… akh…itu mah terserah bapak sajalah…”. Kini barulah sang pejabat bisa tersenyum, dan sang calonpun diterimanya.

Nah… dari cerita diatas bisa ditarik kesimpulan,

Sifat yang dimiliki oleh calon ke tiga itulah yang sering terjadi di lingkungan kita. Kerelaan untuk hanyut dan larut dalam arus tanpa mengeluh (bisa disebut Konformisme… bener nggak ya…). Penyakit Ikut-ikutan seperti daun kering yang terbang kemana saja mengikuti arah angin yang kuat. penyakit itu gampang sekali mewabah, karena mengikuti atus tentu lebih aman daripada menentang arus.

Suatu sistem yang dibangun atas dasar konformisme adalah rapuh dan amat berbahaya, sebab… bila angin berbalik, pemimpin diganti, politik berubah.. maka hilang pula pegangan dan kepastian, dan dia akan berusaha mengikuti angin baru lagi. Sekalipun dia sudah tak punya harga diri karena sudah dijual murah maka dia akan mempunyai muka tembok untuk menjilat seseorang sekalipun dulu adalah musuhnya sendiri.

Seorag pemimpin yang baik, yang elegant adalah pemimpin yang bisa  melihat bawahannya  mempunyai sifat komformisme atau tidak. Jika masukannya selalu saja baik dan terkesan tak pernah ada masalah… maka… harus waspada mungkin ada sesuatu yang ditutupi. Dan hal itu akan menjadi api dalam sekam yang suatu saat akan meledak dan membakar semua yang telah dibangun dengan susah payah.

Bila ada seseorang yang memberikan masukan dengan pertimbangan baik, buruk, perhitungan resiko dan hal-hal yang sifatnya bertentangan dengan pendapat bos tapi didasari dengan perhitungan cermat, justru orang seperti inilah yang profesional dan membuat perusahaan makin besar dan berkembang.

Sampai kapanpun janganlah mau menjadi seorang konformisme.

Selamat berpuasa.

Best Regards,

trieand.

P.S.  Konformisme : Demi rasa aman terus mengekor mengikuti kehendak Zaman (Milis spiritual Djuni pristianto)

Comments (20)

Makin ‘dalam’ saja artikel2nya Trie nih :)

Dlm skala kecil dan personal, masing2 dari kita jg acapkali melakukannya.
Baik dgn atasan, orangtua maupun teman, kita srg melakukan kompromi keadaan.
Alasannya mulai dari sungkan, setia kawan, solidaritas, takut, cari aman dll.

Sekilas mmg tdk ada masalah besar dari sikap/sifat conform ini.
Tapi konformisme adalah antitesis dari kreatifitas dan inovasi.
Dengan kata lain ia adalah penghambat dari kemajuan.
Apabila sudah merugikan org banyak, ia mjd penyakit yg harus di sembuhkan.

Mulai dari kita yg diam saja ktk teman/saudara salah,
bawahan yg diam saja ketika atasannya korupsi,
kader yg diam saja ktk partainya tdk menerapkan etika politik yg baik dll.

Sejarah juga mencatat konformisme dlm skala besar; Hitler dgn partai nazi-nya,
juga Inggris dgn slogan “Right or wrong is my country”-nya.

Pemimpin/penguasa/raja yg lalim + konformisme anakbuah/bawahan/rakyat = perfect disaster

Tema artikel yang bagus Dek :)
Secangkir kesadaran utk ikut andil dlm usaha pendewasaan bangsa besar ini.
Viva indonesia!

[Reply]

trieand Reply:

@yudiacro, :matabelo: makasih mas… dah mo nambahin….:sip::sip: komennya juga gak kalah dalem neh….makasih… makasihhh….:nyembah::nyembah: VIVA INDONESIA…:lompat::lompat:

[Reply]

IwanKus Reply:

@trieand, saya ikut baca saja deh…hehe…
tingkat tinggi nih penulis sama komentatornya…:grogi::grogi:
:baca::baca:yang jelas saya gak mau jadi seorang konformisme…
semoga lekas sehat mbak…
trims

[Reply]

trieand Reply:

@IwanKus, makasih doanya mas, ni dah agak mendingan kok…. iyak… jangan smpai deh kita jadi konformisme….:sip::sip:

[Reply]

Artikel yang dahsyat walaupun penulisnya bingung ngasih judul

:puyeng: Tapi kalau tidak keberatan saya ambil benang merahnya mba trie, “demi kebaikan kita boleh saja ikut arus tapi jangan sampai hanyut oleh arus apalagi arus yang membahayakan jiwa kita.”

[Reply]

trieand Reply:

@sumartono, Maksih mas tambahannya….:sip::sip:

[Reply]

wahh udah apdet ya tri
blogku ga sempet tak apdet euy
:D

nice post as always
:)

mudah2an ktika aku dkasih kesempatan menjadi pemimpin, bisa menjadi pemimpin yang teladan n takut akan Tuhan

Amienn

[Reply]

trieand Reply:

@depz, :sip::sip: emang takut kpd Tuhan itulah yang harusnya dilakukan oleh semua pemimpin…:nyembah::nyembah:

[Reply]

Alhamdulillah puasa saya juga beluim ada yang bocor.

[Reply]

trieand Reply:

@Derby, :sikut::sikut: Selamat mas… semoga puasanya bisa full mpe lebaran…makasih dah mo mampir…:plis::plis:

[Reply]

:sip::sip: salam mbak trie…mantabb bener mbak jangan jadi komformis (atau kompromis???) Lebih baik jadi Man/Woman Against The worlds aja (ps: asal sesuai hati nurani :P) hehehe CEPET SEMBUH MBAK:sip:

[Reply]

trieand Reply:

@Alfred | Perfect world, :uhuk: Makasih doanya, ini udah agak mendingan kok… intinya… semua tindakan harus pake hati nurani yak….:sip::sip:

[Reply]

Pertama2 dari segi judul, judul seperti di atas kalo menurut saya malah menarik, jarena membuat orang penasaran untuk membaca lebih jauh..

Tentang isi…wew, akhirnya konformisme dikeluarin juga Trie :sikut:
hehehe..

menurut saya dalam hidup ini kita harus fleksibel, ada saatnya mengikuti arus, namun ada saatnya pula kita harus berdiri menentang arus. Apalagi kalo “arus” tersebut jelas2 merugikan diri sendiri dan orang lain..

Semakin mantap ja artikelnya :sip:

o y, cepet sembuh y :matabelo: hehehe

[Reply]

trieand Reply:

@wellsen, :phew: Makasih sen doanya… bener juga… intinya melakukan kompromi boleh asalkan dlm kebaikan yak…:sip::sip:

[Reply]

Nice posting..
Pada saat tertentu memang perlu kompromi, tetapi semata-mata hanya untuk kebaikan.
Salam sukses.

[Reply]

trieand Reply:

@Riswanto, :sip::sip: memang ga ada salahnya kompromi untuk kebaikan kita..salam sukses juga buat mas…..:nyembah::nyembah:

[Reply]

Rupanya, Mbak Trie lagi sakit juga ya…. :ngakak::ngakak: Hehehehe, kok sama…. Komen ini juga belum ada judulnya, mengikuti judul posting….

[Reply]

trieand Reply:

@Khery Sudeska, :hiks::hiks: Iya neh…. sakitnya ada episode ke dua nya pula…:phew::mimisan: tapi sekarang dah mendingan kok…:nyembah::nyembah:

[Reply]

Your report is very interesting indeed.
I invite You to see a great collection of views of borders (riigipiirid) in my Italian-Estonian site http://www.pillandia.blogspot.com
Helping text in 30 different languages too.
Best wishes from Italy!

[Reply]

trieand Reply:

@Pilland, :nyerah::nyerah: Thanks for your comment….:puyeng::puyeng:

[Reply]

Post a comment

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: :sliweran: more »